Koneksi Antar Materi Modul 3.1 Pengambilan Keputusan Berbasis Nilai-nilai Kebajikan sebagai Pemimpin
Oleh: Wardani Adi Winata
(CGP Angkatan 11 Kab.Madiun)
Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?
Filosofi Ki Hajar Dewantara dengan konsep Pratap Triloka yang terdiri dari Ing Ngarsa Sung Tuladha (di depan memberi teladan), Ing Madya Mangun Karsa (di tengah membangun semangat), dan Tut Wuri Handayani (di belakang memberikan dorongan) sangat relevan dengan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin. Dalam pengambilan keputusan, seorang pemimpin harus mampu memberikan contoh yang baik (Ing Ngarsa) dengan menunjukkan integritas dan tanggung jawab. Ketika berada di tengah-tengah, pemimpin harus membangun kebersamaan dan mendukung partisipasi dari anggota tim (Ing Madya), dengan mengakomodasi pendapat yang berbeda dan mempertimbangkan dampak keputusan bagi semua pihak. Sementara itu, sebagai dorongan dari belakang (Tut Wuri), seorang pemimpin memastikan bahwa keputusan yang diambil memberi ruang bagi anggota untuk bertumbuh dan mengambil inisiatif, dengan memberikan kepercayaan dan dukungan agar mereka bisa berkembang secara mandiri.
Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
Nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita berperan sebagai fondasi dalam setiap keputusan yang kita ambil. Nilai-nilai ini membentuk kerangka moral, etika, dan keyakinan yang memandu cara kita memandang situasi, menentukan prioritas, dan bertindak dalam pengambilan keputusan. Ketika menghadapi pilihan, kita cenderung memilih opsi yang sejalan dengan prinsip-prinsip yang kita pegang. Misalnya, seseorang yang menilai integritas tinggi akan cenderung menghindari keputusan yang melibatkan manipulasi atau ketidakjujuran, meskipun opsi tersebut mungkin tampak lebih menguntungkan secara materiil. Begitu pula, jika seseorang mengutamakan keadilan dan kesejahteraan bersama, keputusan yang diambil akan mempertimbangkan dampak bagi banyak orang, bukan hanya kepentingan pribadi. Dengan kata lain, nilai-nilai pribadi menjadi landasan utama yang memengaruhi cara kita merumuskan tujuan, memilih alternatif, dan menghadapi dilema dalam proses pengambilan keputusan.
Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.
Materi pengambilan keputusan memiliki kaitan erat dengan kegiatan coaching (bimbingan) yang dilakukan oleh pendamping atau fasilitator dalam proses pembelajaran. Dalam sesi coaching, seorang pendamping atau fasilitator membantu coachee untuk merefleksikan proses pengambilan keputusan yang telah mereka lakukan, mengevaluasi keefektifannya, dan mempertimbangkan dampak dari keputusan tersebut. Coaching memungkinkan coachee untuk meninjau kembali apakah keputusan yang diambil sudah sesuai dengan tujuan, nilai-nilai, dan prinsip-prinsip yang dipegang.
Melalui proses dialog yang terbuka dan pertanyaan reflektif, sesi coaching dapat mengungkap apakah masih ada keraguan atau pertanyaan yang belum terjawab dalam diri coachee terkait keputusan yang diambil. Fasilitator dapat membantu dengan menanyakan aspek-aspek yang mungkin terlewat, mengajak coachee mempertimbangkan alternatif, dan mengeksplorasi bagaimana keputusan tersebut bisa disempurnakan di masa depan. Dengan demikian, coaching tidak hanya berfungsi sebagai alat evaluasi, tetapi juga sebagai sarana pengembangan pemikiran kritis dan introspektif, yang memungkinkan pengambilan keputusan menjadi proses yang lebih efektif dan terarah. Sesi coaching memberikan ruang aman bagi coachee untuk meninjau keputusan dengan bimbingan, tanpa merasa terhakimi, sehingga mereka dapat meningkatkan kualitas keputusan di masa depan.
Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?
Kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial-emosionalnya memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pengambilan keputusan, terutama ketika menghadapi dilema etika. Aspek sosial-emosional, seperti kesadaran diri, empati, regulasi emosi, dan kesadaran sosial, memampukan guru untuk bertindak lebih bijak dan tenang saat dihadapkan pada situasi kompleks yang melibatkan pertimbangan moral.
Kesadaran emosi membantu guru mengenali perasaan pribadi yang muncul ketika menghadapi dilema, sehingga mereka tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan berdasarkan impuls atau tekanan emosi. Pengelolaan emosi yang baik memungkinkan guru untuk tetap tenang dan berpikir jernih, yang sangat penting dalam menyikapi dilema etika yang sering kali menuntut keseimbangan antara kepentingan pribadi, aturan profesional, dan kebutuhan siswa.
Empati, yang merupakan bagian penting dari kesadaran sosial, membantu guru memahami dampak keputusan mereka terhadap orang lain, seperti siswa, kolega, dan komunitas. Ini memungkinkan mereka untuk melihat dilema dari berbagai perspektif dan mempertimbangkan solusi yang tidak hanya menguntungkan satu pihak tetapi juga adil dan seimbang.
Dengan kesadaran sosial-emosional yang kuat, guru dapat lebih bijaksana dalam menimbang berbagai konsekuensi etis, mempertahankan integritas profesional, dan menjaga kesejahteraan semua pihak yang terlibat.
Pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika sering kali kembali pada nilai-nilai yang dianut oleh seorang pendidik karena nilai-nilai tersebut menjadi landasan utama dalam merumuskan dan mempertimbangkan tindakan yang tepat. Nilai-nilai seperti integritas, keadilan, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap orang lain membentuk cara seorang pendidik memahami dan merespons dilema etika dalam konteks profesi mereka.
Dalam situasi studi kasus, pendidik dihadapkan pada pilihan-pilihan yang mungkin tidak memiliki solusi yang jelas, sehingga nilai-nilai pribadi dan profesional mereka menjadi penentu utama arah keputusan yang diambil. Misalnya, ketika seorang pendidik harus memilih antara kepentingan individu siswa dan aturan sekolah, nilai-nilai seperti keadilan dan kepedulian akan memandu pendidik untuk mempertimbangkan dampak keputusan tersebut secara menyeluruh, baik terhadap siswa, lingkungan sekolah, maupun masyarakat.
Nilai-nilai tersebut juga memberikan pendidik kerangka etis untuk tetap konsisten dalam tindakan mereka, meskipun menghadapi tekanan eksternal atau situasi yang sulit. Ketika pendidik memiliki komitmen yang kuat terhadap nilai-nilai etika, mereka lebih cenderung mengambil keputusan yang berintegritas, meskipun itu mungkin tidak selalu merupakan jalan termudah. Oleh karena itu, studi kasus yang membahas masalah etika membantu pendidik merefleksikan apakah tindakan mereka sudah sesuai dengan nilai-nilai yang mereka anut dan apakah keputusan tersebut dapat dipertanggungjawabkan secara moral dan profesional.
Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman?
Keputusan yang tepat adalah keputusan yang memperhitungkan berbagai faktor, seperti kepentingan bersama, kesejahteraan individu, keadilan, dan nilai-nilai etika. Ketika seorang pendidik atau pemimpin mengambil keputusan dengan bijak, dampaknya tercermin dalam suasana lingkungan yang mendukung pertumbuhan, pembelajaran, dan kolaborasi.
Keputusan yang adil dan bijaksana menciptakan rasa percaya di antara siswa, guru, dan komunitas sekolah. Hal ini meningkatkan kepercayaan antar individu karena mereka merasa didengar, dihargai, dan diperlakukan dengan adil. Kepercayaan ini penting dalam membangun rasa aman, sehingga setiap orang merasa nyaman dalam berinteraksi dan berpartisipasi.
Selain itu, pengambilan keputusan yang tepat juga memastikan bahwa konflik atau masalah yang muncul diselesaikan dengan cara yang membangun, bukan merusak. Dengan demikian, suasana yang kondusif untuk pembelajaran terjaga, di mana siswa merasa nyaman untuk bertanya, bereksplorasi, dan berekspresi tanpa takut akan diskriminasi atau perlakuan yang tidak adil.
Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini?
Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?
Tantangan dalam pengambilan keputusan terkait dilema etika di lingkungan sekolah seringkali berkaitan dengan beberapa faktor, termasuk:
1. Paradigma Budaya Sekolah: Budaya di sekolah dapat mempengaruhi cara individu memahami dan menyelesaikan dilema etika. Jika budaya sekolah lebih mendukung kepentingan pribadi atau hubungan personal daripada prinsip integritas, maka keputusan etis bisa terganggu. Dalam konteks pengadaan buku di sekolah, misalnya, tawaran imbalan pribadi dapat memengaruhi integritas seseorang dalam memilih buku yang terbaik bagi siswa.
2. Norma dan Harapan Sosial: Paradigma yang berkembang di lingkungan sekolah mengenai norma atau kebiasaan juga bisa mempersulit pengambilan keputusan. Ketika norma di suatu tempat cenderung permisif terhadap hal-hal yang tidak sepenuhnya etis, seperti menerima keuntungan pribadi, seseorang mungkin merasa tertekan untuk mengikuti arus demi mempertahankan harmoni dengan rekan kerja atau atasan.
3. Tekanan dari Pihak Luar: Keputusan di lingkungan sekolah tidak jarang terpengaruh oleh tekanan eksternal, seperti dari pemasok atau pejabat terkait yang menawarkan keuntungan untuk membuat keputusan tertentu. Hal ini menjadi tantangan dalam menjaga keseimbangan antara kepentingan sekolah dan etika profesional.
4. Peran Kepemimpinan: Paradigma kepemimpinan di sekolah, terutama dari kepala sekolah atau pimpinan lainnya, memiliki dampak besar terhadap pengambilan keputusan. Jika pemimpin menunjukkan integritas tinggi, ini akan membantu menciptakan budaya pengambilan keputusan yang etis. Sebaliknya, kepemimpinan yang kurang tegas dalam integritas dapat membuat staf kesulitan dalam menegakkan prinsip etika.
5. Konflik Kepentingan: Pengambilan keputusan yang etis sering kali rumit karena adanya konflik kepentingan. Misalnya, guru atau staf yang memiliki hubungan pribadi dengan pemasok barang atau jasa mungkin merasa sulit untuk bersikap obyektif, meskipun ada standar etika yang harus diikuti.
Paradigma dan budaya sekolah sangat berpengaruh dalam mendukung atau merintangi proses pengambilan keputusan yang etis. Membentuk budaya integritas, akuntabilitas, dan transparansi adalah kunci untuk menghadapi tantangan ini.
Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?
Pengambilan keputusan yang tepat sangat berpengaruh pada penerapan pengajaran yang memerdekakan murid-murid, karena keputusan tersebut akan menentukan apakah pembelajaran yang diberikan benar-benar mengakomodasi kebutuhan, potensi, dan minat siswa secara individual. Dalam konteks Merdeka Belajar, keputusan guru harus selalu berorientasi pada pemberian ruang bagi siswa untuk berkembang secara optimal, baik dari segi akademis, sosial-emosional, maupun kemandirian.
Pengajaran yang memerdekakan menuntut guru untuk mengambil keputusan yang fleksibel, inklusif, dan berfokus pada pengembangan potensi setiap murid yang berbeda-beda. Misalnya, ketika memutuskan strategi pembelajaran, guru harus mempertimbangkan keragaman potensi dan gaya belajar siswa. Keputusan untuk menerapkan metode yang bervariasi, seperti pembelajaran berbasis proyek, diskusi kelompok, atau pendekatan individual, akan memastikan setiap siswa mendapat kesempatan untuk belajar dengan cara yang paling efektif bagi mereka. Dengan kata lain, guru memutuskan untuk menyesuaikan pembelajaran agar relevan dengan kondisi dan kemampuan unik setiap siswa, alih-alih menggunakan pendekatan yang seragam.
Selain itu, dalam memerdekakan murid, pengambilan keputusan yang mempertimbangkan aspek keterlibatan aktif siswa sangat penting. Guru harus memutuskan kapan memberikan kesempatan kepada siswa untuk menentukan arah belajarnya sendiri, memberi mereka otonomi dalam memilih proyek atau topik yang menarik minat mereka. Hal ini tidak hanya membantu siswa untuk merasa dihargai dan didengarkan, tetapi juga mendorong rasa tanggung jawab dan kemandirian dalam proses belajar.
Pada saat yang sama, guru perlu memastikan bahwa keputusan yang diambil dalam perencanaan pembelajaran memberikan tantangan yang sesuai dengan tingkat perkembangan dan potensi siswa. Ini berarti, dalam pengambilan keputusan, guru harus mempertimbangkan data dan observasi mengenai kemampuan, minat, serta kebutuhan khusus dari setiap siswa. Dengan demikian, siswa yang berpotensi tinggi bisa diberi tantangan yang lebih kompleks, sementara siswa yang memerlukan dukungan lebih bisa diberikan pembelajaran yang sesuai dengan kecepatan mereka.
Pada akhirnya, pengambilan keputusan yang tepat dalam pembelajaran yang memerdekakan adalah tentang menciptakan lingkungan di mana setiap siswa merasa diberdayakan untuk mencapai potensi terbaik mereka, dengan guru berperan sebagai fasilitator yang mendukung perkembangan mereka secara individu. Guru yang mampu mengambil keputusan secara bijak, berdasarkan pemahaman mendalam tentang siswa, akan mampu merancang pembelajaran yang inklusif, relevan, dan membebaskan siswa untuk berkembang sesuai dengan kekuatan dan minat mereka masing-masing.
Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
Seorang pemimpin pembelajaran, seperti kepala sekolah atau guru, memiliki peran yang sangat penting dalam pengambilan keputusan yang dapat mempengaruhi kehidupan dan masa depan murid-muridnya. Setiap keputusan yang diambil oleh pemimpin pembelajaran, baik terkait dengan kebijakan akademis, pengelolaan kelas, hingga pemberian bimbingan dan dukungan sosial-emosional, memiliki dampak langsung pada perkembangan siswa, termasuk bagaimana mereka belajar, tumbuh, dan berinteraksi dengan dunia di sekitar mereka.
Pertama, keputusan terkait kurikulum, metode pengajaran, dan strategi evaluasi yang dipilih oleh pemimpin pembelajaran dapat memengaruhi seberapa baik murid memahami materi pelajaran, mengembangkan keterampilan kritis, dan membentuk pola pikir mereka. Jika seorang pemimpin pembelajaran memilih untuk menerapkan metode yang inovatif, inklusif, dan relevan dengan kebutuhan siswa, murid akan lebih terdorong untuk belajar dan berkembang. Sebaliknya, keputusan yang mengabaikan kebutuhan individual siswa dapat menghambat proses belajar dan mengurangi motivasi mereka untuk terus belajar.
Kedua, keputusan dalam menciptakan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan positif juga sangat berpengaruh pada kesejahteraan emosional siswa. Pemimpin pembelajaran yang berfokus pada pembangunan budaya sekolah yang mendukung kolaborasi, saling menghormati, dan kesejahteraan mental akan membantu siswa merasa diterima dan nyaman di sekolah. Ini berdampak langsung pada kemampuan siswa untuk fokus dalam belajar, mengelola stres, dan membangun hubungan sosial yang sehat, yang akan mereka bawa hingga dewasa.
Ketiga, keputusan yang diambil terkait pemberian bimbingan karier, pengembangan karakter, dan keterampilan hidup juga memainkan peran penting dalam membentuk masa depan siswa. Pemimpin pembelajaran yang memberikan arahan yang tepat, mengenali potensi unik siswa, dan menyediakan dukungan yang memadai dapat membantu siswa mengidentifikasi dan mengembangkan minat mereka serta membuat pilihan karier yang tepat. Hal ini sangat penting dalam mempersiapkan mereka untuk kehidupan setelah sekolah, baik di perguruan tinggi, dunia kerja, maupun masyarakat secara umum.
Terakhir, keputusan terkait penanganan dilema etika dan keadilan di sekolah dapat mengajarkan siswa tentang pentingnya nilai-nilai moral, integritas, dan tanggung jawab sosial. Siswa yang melihat teladan baik dalam pengambilan keputusan etis akan belajar untuk menilai situasi dengan hati-hati, mempertimbangkan dampaknya pada orang lain, dan bertindak berdasarkan prinsip yang benar, yang akan membentuk karakter mereka di masa depan.
Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?
Kesimpulan akhir dari pembelajaran modul pengambilan keputusan sebagai pemimpin menunjukkan bahwa seorang pemimpin pendidikan harus mampu membuat keputusan yang tepat dan berlandaskan pada prinsip-prinsip integritas serta kebutuhan siswa. Keterkaitannya dengan modul peran guru penggerak dan supervisi akademik menggarisbawahi pentingnya kolaborasi dan komunikasi efektif antara guru, siswa, dan pemangku kepentingan lainnya. Seorang guru penggerak tidak hanya berfungsi sebagai pengajar, tetapi juga sebagai fasilitator yang mendorong perubahan positif melalui keputusan yang strategis dan responsif terhadap dinamika di lingkungan sekolah. Dengan demikian, penerapan prinsip-prinsip pengambilan keputusan yang baik dapat meningkatkan kualitas supervisi akademik dan mendukung pengembangan ekosistem belajar yang lebih baik.
Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?
Pemahaman saya tentang konsep-konsep dalam modul ini semakin mendalam, terutama mengenai dilema etika dan bujukan moral yang menekankan pentingnya mempertimbangkan nilai-nilai etis dalam setiap keputusan. Paradigma pengambilan keputusan yang beragam—rasional, politik, intuitif, dan inkremental—memberikan perspektif yang berbeda dalam memahami kompleksitas situasi yang dihadapi. Prinsip pengambilan keputusan yang menekankan transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi juga menjadi landasan penting untuk menciptakan keputusan yang adil dan berkelanjutan.
Sementara itu, 9 langkah dalam pengambilan dan pengujian keputusan memberikan kerangka sistematis yang berguna untuk menganalisis pilihan dan mengevaluasi hasilnya. Hal yang mungkin di luar dugaan adalah bagaimana pentingnya keterlibatan semua pihak dalam proses pengambilan keputusan, serta bagaimana pendekatan yang lebih inklusif dapat menghasilkan keputusan yang lebih baik dan diterima oleh semua pihak. Ini memperkuat keyakinan bahwa kolaborasi dan komunikasi yang efektif sangat krusial dalam setiap langkah pengambilan keputusan.
Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?
Sebelum mempelajari modul ini, saya pernah mengalami situasi di mana saya harus mengambil keputusan dalam konteks dilema moral, misalnya, ketika dihadapkan pada pilihan yang melibatkan kepentingan siswa versus kebijakan sekolah. Dalam pengalaman tersebut, saya sering kali mengandalkan insting dan pertimbangan intuitif, tanpa memiliki kerangka sistematis untuk menganalisis pilihan yang ada.
Setelah mempelajari modul ini, saya menyadari pentingnya menggunakan pendekatan yang lebih terstruktur, seperti paradigma pengambilan keputusan dan langkah-langkah pengujian keputusan yang telah diajarkan. Modul ini menekankan perlunya analisis mendalam terhadap situasi, mempertimbangkan berbagai perspektif, serta melibatkan pihak terkait dalam proses pengambilan keputusan. Perbedaan utama terletak pada penggunaan prinsip etika dan kerangka sistematis yang lebih jelas, yang membantu saya untuk membuat keputusan yang lebih transparan dan akuntabel. Ini tidak hanya meningkatkan kualitas keputusan yang diambil, tetapi juga memperkuat kepercayaan dan keterlibatan semua pihak yang terlibat.
Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?
Mempelajari konsep pengambilan keputusan dalam modul ini berdampak signifikan pada cara saya mengambil keputusan. Sebelumnya, saya cenderung mengandalkan insting dan pengalaman pribadi, seringkali tanpa mempertimbangkan semua faktor yang relevan. Namun, setelah mengikuti pembelajaran, saya lebih menyadari pentingnya pendekatan yang sistematis dan terstruktur.
Perubahan utama yang terjadi adalah saya kini lebih banyak melakukan analisis situasi dan mempertimbangkan berbagai perspektif sebelum mengambil keputusan. Saya juga lebih terbuka untuk melibatkan rekan-rekan dan pihak-pihak terkait dalam proses pengambilan keputusan, sehingga menghasilkan keputusan yang lebih inklusif dan diterima oleh semua. Selain itu, penerapan prinsip etika yang lebih kuat dalam keputusan saya membantu menjaga integritas dan transparansi, yang pada gilirannya meningkatkan kepercayaan dari siswa dan kolega. Dengan demikian, saya merasa lebih percaya diri dan bertanggung jawab dalam setiap keputusan yang diambil.
Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?
Mempelajari topik modul ini sangat penting baik bagi saya sebagai individu maupun sebagai pemimpin. Sebagai individu, pemahaman tentang pengambilan keputusan yang etis dan sistematis membantu saya mengembangkan kemampuan analitis yang lebih baik. Ini memungkinkan saya untuk mengevaluasi situasi dengan lebih objektif, memahami konsekuensi dari setiap pilihan, dan meningkatkan integritas pribadi dalam setiap tindakan yang diambil.
Sebagai seorang pemimpin, topik ini menjadi krusial karena keputusan yang diambil dapat berdampak luas pada lingkungan sekolah dan siswa. Mempelajari berbagai paradigma dan prinsip pengambilan keputusan memberikan saya alat untuk membuat keputusan yang lebih baik, yang tidak hanya mengutamakan kepentingan jangka pendek, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan dan dampak jangka panjang. Keterampilan dalam melibatkan orang lain dan menciptakan kolaborasi dalam pengambilan keputusan juga meningkatkan kepercayaan tim dan menciptakan atmosfer kerja yang positif. Dengan demikian, pemahaman ini memperkuat kapasitas kepemimpinan saya untuk menciptakan perubahan positif dalam komunitas pendidikan.
luar biasa pak adi semoga dapat menginspirasi rekan guru lainnya dan tetap konsisten dalam menggerakan komunitas yang ada disekolah
ReplyDeleteMenarik dan menginspirasi bagi guru dan kepala sekolah dalam mengambil keputusan. Salam CGP
ReplyDeleteAlhamdulillah, luar biasa Bapak Wardani Adi Winata. Terima kasih atas ilmunya, sangat inspiratif.
ReplyDeleteBagus dan menarik sekali, semoga jadi inspirasi buat guru yang lain. Salam sukses
ReplyDelete