Tembang Macapat
Macapat adalah tembang atau puisi tradisional
Jawa.
Pada umumnya macapat
diartikan sebagai maca papat-papat (membaca empat-empat),
yaitu maksudnya cara membaca terjalin tiap empat suku kata.
Sebuah karya sastra macapat biasanya dibagi menjadi
beberapa pupuh, sementara setiap pupuh dibagi
menjadi beberapa pada. Setiap pupuh menggunakan
metrum yang sama. Metrum ini biasanya tergantung kepada watak isi
teks yang diceritakan.
Jumlah pada (bait) per pupuh berbeda-beda, tergantung
terhadap jumlah teks yang digunakan. Sementara setiap pada dibagi lagi menjadi larik atau gatra.
Sementara setiap larik atau gatra ini dibagi
lagi menjadi suku kata atau wanda. Setiap gatra jadi
memiliki jumlah suku kata yang tetap dan berakhir dengan sebuah vokal yang sama
pula.
Aturan mengenai penggunaan jumlah suku kata ini diberi
nama guru wilangan. Sementara aturan pemakaian vokal akhir
setiap larik atau gatra diberi nama guru
lagu.
Ada beberapa jenis tembang macapat. masing-masing jenis tembang tersebut
memiliki aturan berupa guru lagu dan guru wilangan masing-masing yang
berbeda-beda. Yang paling dikenal umum ada 11 jenis tembang macapat, yaitu:
1. Pangkur berasal dari nama penggawa dalam kalangan kependetaan seperti tercantum
dalam piagam-piagam berbahasa jawa kuno. Dalam Serat Purwaukara, Pangkur diberi
arti buntut atau ekor. Oleh karena itu Pangkur kadang-kadang diberi sasmita
atau isyarat tut pungkur berarti mengekor dan tut wuntat berarti mengikuti.
2. Maskumambang berasal dari kata mas dan kumambang. Mas dari kata Premas yaitu penggawa
dalam upacara Shaministis. Kumambang dari kata Kambang dengan sisipan – um.
Kambang dari kata Ka- dan Ambang. Kambang selain berarti terapung, juga berarti
Kamwang atau kembang. Ambang ada kaitannya dengan Ambangse yang berarti
menembang atau mengidung. Dengan demikian, Maskumambang dapat diberi arti
penggawa yang melaksanakan upacara Shamanistis, mengucap mantra atau lafal
dengan menembang disertai sajian bunga. Dalam Serat Purwaukara, Maskumambang
diberi arti Ulam Toya yang berari ikan air tawar, sehingga kadang-kadang di
isyaratkan dengan lukisan atau ikan berenang.
3. Sinom ada hubungannya
dengan kata Sinoman, yaitu perkumpulan para pemuda untuk membantu orang punya
hajat. Pendapat lain menyatakan bahwa Sinom ada kaitannya dengan
upacara-upacara bagi anak-anak muda zaman dahulu. Dalam Serat Purwaukara, Sinom
diberi arti seskaring rambut yang berarti anak rambut. Selain itu, Sinom juga
diartikan daun muda sehingga kadang-kadang diberi isyarat dengan lukisan daun
muda.
4. Asmaradana berasal dari kata Asmara dan Dhana. Asmara adalah nama dewa percintaan.
Dhana berasal dari kata Dahana yang berarti api. Nama Asmaradana berkaitan
denga peristiwa hangusnya dewa Asmara oleh sorot mata ketiga dewa Siwa seperti
disebutkan dalam kakawin Smaradhana karya Mpu Darmaja. Dalam Serat Purwaukara,
Smarandana diberi arti remen ing paweweh, berarti suka memberi.
5. Dhangdhanggula diambil dari nama kata raja Kediri, Prabu Dhandhanggendis yang terkenal
sesudah prabu Jayabaya. Dalam Serat Purwaukara, Dhandhanggula diberi arti
ngajeng-ajeng kasaean, bermakna menanti-nanti kebaikan.
6. Durma dari
kata jawa klasik yang berarti harimau. Sesuai dengan arti itu, tembangDurma
berwatak atau biasa diguanakan dalam suasana seram.
7. Mijil berarti
keluar. Selain itu, Mijil ada hubungannya dengan Wijil yang bersinonim dengan
lawang atau pintu. Kata Lawang juga berarti nama sejenis tumbuh-tumbuhan yang
bunganya berbau wangi. Bunga tumbuh-tumbuhan itu dalam bahasa latin disebut
heritiera littoralis.
8. Kinanthi berarti bergandengan, teman, nama zat atau benda, nam bunga. Sesuai arti
itu, tembang Kinanthi berwatak atau biasa digunakan dalam suasana mesra dan
senang.
9. Gambuh berarti
ronggeng, tahu, terbiasa, nama tetumbuhan. Berkenaan dengan hal itu, tembang
Gambuh berwatak atau biasa diguanakan dalam suasana tidak ragu-ragu.
10. Pucung adalah
nama biji kepayang, yang dalam bahasa latin disebut Pengium edule. Dalam Serat
Purwaukara, Pucung berarti kudhuping gegodhongan ( kuncup dedaunan ) yang
biasanya tampak segar. Ucapan cung dalam Pucung cenderung mengacu pada hal-hal
yang bersifat lucu, yang menimbulkan kesegaran, misalnya kucung dan kacung.
Sehingga tembang Pucung berwatak atau biasa digunakan dalam suasana santai.
11. Megatruh berasal dari awalan am, pega dan ruh. Pegat berarti putus, tamat, pisah,
cerai. Dan ruh berarti roh. Dalam Serat Purwaukara, Megatruh diberi arti mbucal
kan sarwa ala ( membuang yang serba jelek ). Pegat ada hubungannya dengan peget
yang berarti istana, tempat tinggal. Pameget atau pamegat yang berarti jabatan.
Samgat atau samget berarti jabatan ahli, guru agama. Dengan demikian, Megatruh
berarti orang yang ahli dalam kerohanian yang selalu menghindari perbuatan
jahat.
Comments
Post a Comment