Sastra Profetik
Sastra
profetik merupakan pengembangan dari sastra yang bercorak religius dimana dalam
sastra profetik ada unsur yang harus terpenuhi bukan hanya hubungan manusia
dengan Tuhan.
Sastra profetik merupakan inspirasi dari Jalaludin Rumi dan
Muhammad Iqbal, dimana manusia memiliki sikap kebebasan apa yang menjadi
pemimpin. Seni merupakan menjadi alat perubah dan pengerak realitas sosial dan
seniman menjadi inspirator perubahan serta bagaimana menciptakan yang lebih
baik.
Sebagaimana unsur sastra yang bercorak profetik menurut pandangan Jalaludin
Rumi dan Muhammad Iqbal, meliputi kebesaran makna Illahiah, manusia merupakan
mahluk yang merdeka dan kreatif, manusia menjadi khalifah dan melibatkan diri
dalam proses sosial, sedangkan yang terkhir keseimbangan antara dimensi
vertical dengan horizontal.
Sastra profetik adalah sebuah konsep berkarya yang
berlandaskan pada elan kenabian. Kunto mengutip konsep tersebut dari Al Quran,
yaitu surat Al Imran ayat 110: “Kamu ialah sebaik-baik umat yang dilahirkan
bagi umat manusia, menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran dan beriman
kepada Allah."
Sastra profetik mengedepankan humanisasi (amar ma'ruf), liberasi (nahi mungkar) dan transendensi (tu'minuna billah).Artinya sastra profetik adalah karya sastra yang mampu memberikan keseimbangan antara tema social dan tema spiritual, merepresentasikan sejarah kemanusiaan maupun nilai -nilai ke-Nabian/agama
(etika profetik).
Selanjutnya pada penerapan sastra profetik yaitu dengan menciptakan karya sastra yang memiliki semangat humanisasi dan liberasi yang ditopang dengan transendensi. Intinya menciptakan bentuk-bntuk pengucapan yang bersifat transcendental, serta keterlibatan dengan realitas social; yaitu ada keseimbangan antara dimensi ukhrawiyah dan dimensi duniawiyah.
Sastra profetik mengedepankan humanisasi (amar ma'ruf), liberasi (nahi mungkar) dan transendensi (tu'minuna billah).Artinya sastra profetik adalah karya sastra yang mampu memberikan keseimbangan antara tema social dan tema spiritual, merepresentasikan sejarah kemanusiaan maupun nilai -nilai ke-Nabian/agama
(etika profetik).
Selanjutnya pada penerapan sastra profetik yaitu dengan menciptakan karya sastra yang memiliki semangat humanisasi dan liberasi yang ditopang dengan transendensi. Intinya menciptakan bentuk-bntuk pengucapan yang bersifat transcendental, serta keterlibatan dengan realitas social; yaitu ada keseimbangan antara dimensi ukhrawiyah dan dimensi duniawiyah.
Comments
Post a Comment