Karakter Siswa dan Budayanya
Penyusunan bahan ajar perlu
memerhatikan karakteristik siswa karena karakteristik siswa yang berbeda akan
memengaruhi proses pembelajaran.
Karakteristik
siswa menurut Degeng (1991) adalah aspek-aspek atau kualitas perseorangan siswa
yang telah dimilikinya. Menganalisis karakteristik siswa dimaksudkan untuk
mengetahui ciri-ciri perseorangan siswa. Hasil dari kegiatan ini akan berupa
daftar yang memuat pengelompokan karakteristik siswa, sebagai pijakan untuk
mendeskripsikan metode yang optimal untuk mencapai hasil belajar tertentu.
Teori
dan prinsip pembelajaran yang digunakan dalam pembelaran moral di Indonesia
seharusnya dikembangkan dengan berpijak pada informasi tentang karakteristik
siswa dan budayanya.
Dengan
mengetahui karakteristik siswa, maka
bahan ajar yang dirancang akan membantu siswa ke arah perkembangan moralitas
yang lebih tinggi untuk memecahkan konflik-konflik moral yang sungguh-sungguh.
Anak
yang tinggal di suatu daerah tertentu akan mempunyai karakteristik yang berbeda
dengan remaja di daerah lain. Untuk mengetahui karakteristik remaja di suatu
daerah tertentu, terlebih dahulu harus mengetahui karakteristik budaya
masyarakat setempat.
Walaupun
di tengah arus perkembangan yang sangat pesat dalam segala aspek kehidupan yang
terjadi di seluruh tanah air, masih terlihat dengan jelas bahwa masyarakat di
suatu daerah masih kuat berpegang pada adat kebiasaan dan mentalitas
leluhurnya. Sebagai contoh, menurut Notohamidjojo (dalam Magnis Suseno, 1991)
bagi kebanyakan orang Jawa, tujuan hidup adalah kesatuan dengan dengan seluruh
kosmos yang dilihatnya sebagai subjek yang secara analog mempunyai daya dan
kekuatan yang tidak boleh ditaklukkan demi kepentingan manusia. Seluruh kosmos
perlu dijaga sehingga terjamin adanya keharmonisan manusia.
Informasi
mengenai karakteristik anak dan budayanya di daerah-daerah lain penting
dipahami para pendidik di bidang moral. Ini semua harus dijadikan pijakan dalam
mengembangkan bahan ajar pembelajaran moral bagi anak.
Comments
Post a Comment